You are here: Home Kewirausahaan
Decrease font size  Default font size  Increase font size 
Kewirausahaan
Berlepas dari riba, Bisa! Print E-mail
Saturday, 04 February 2012 00:45

Riba

Beda dengan tulisan sebelumnya, kali ini Muslimpreneur dan pembaca budiman akan disuguhi kisah kesadaran dan upaya sungguh-sungguh seorang pengusaha untuk keluar dari sirkuit kemaksiatan bisnis yang bernama riba. Sebuah upaya yang tak mudah. Hanya keimanan dan dorongan kemauan beramal shalih yang membuatnya bisa menempuh semua itu. Semoga jadi inspirasi solusi, khususnya bagi Anda atau kolega Anda yang tengah mengalaminya

Tsunami Aceh adalah pemantik kesadaran itu. Sebelumnya, saya telah memiliki cara pandang hidup seperti kebanyakan orang. Setelah lulus SMA, saya akan cari harta/materi sebanyak-banyaknya. Alhamdulillah  impian itu telah menjadi kenyataan. Saya sukses dan semua harta impian sudah dimiliki: mobil, rumah, tanah dan banyak lagi. Namun, begitu tsunami Aceh itu terjadi, saya menangis melihat kejadian itu. Dalam benak saya, apalah arti materi yang selama ini saya kejar hingga melupakan Allah. Padahal kalau Allah berkehendak mengambilnya kembali, tentu tidak butuh waktu lama. Hanya hitungan detik saja semua itu lenyap. Lalu, apa yang akan saya persiapkan untuk menghadapi kematian. Seperti harta, ajal pun sewaktu-waktu datang menjemput. Kesadaran inilah yang membawa saya kembali kepada Islam, Din mulia yang telah lama tak saya gubris, khususnya dalam berbisnis.

Tak lama, alhamdulillah Allah SWT mempertemukan saya dengan Islam melalui aktivis sebuah organisasi massa. Saya diajak ke acara-acara kajian Islam yang diadakan oleh ormas tersebut. Saya ingat sekali, saat itu pertama kalinya, diajak ke Asrama Haji Sukolilo Surabaya. Betapa terkejutnya saya ketika mendengar paparan pemateri yang menjelaskan tentang dosa-dosa riba, yang mereka kutip dari sebuah hadits, yang artinya: “Apabila zina dan riba telah tampak di suatu kampung, menghalalkan azab Allah untuk ditimpakan kepada mereka”. Juga hadits lain yang artinya, “Ada 70 pintu dosa riba, dan yang paling ringan sama dengan menzinai ibu kandungnya sendiri”; “sama berzina dengan 36 pelacur”. Pembicara hanya memberi satu opsi, yakni tobat dan segera selesaikan! Jangan tunda-tunda! Waduh di zaman sekuler seperti ini, rasanya sulit untuk bisa melakukannya! Parahnya lagi, siapa yang mau bantu?

Setelah acara itu, saya mengalami guncangan hebat, gelisah, takut, tidak tenang dalam hidup. Saya tak mengira sedahsyat itu dosanya. Saya sampaikan kepada istri tentang masalah ini dan ternyata istri juga mengalami perasaan yang sama hingga kami memutuskan menyelesaikan masalah riba yang sudah kami lakukan pada awal buka usaha tahun 1996. Tapi masalah lain  muncul. Kami hitung aset yang kami miliki lalu kami bandingkan dengan utang riba, ternyata masih lebih banyak utangnya. Karena itu, opsi melepas semua aset tidak mungkin saya lakukan. Kekayaan saya selama ini ternyata hanya ‘looking rich’. Kelihatannya saja kaya karena ditopang utang riba! Saya dan istri terus cari solusi dan tiap malam kami sholat malam dan berdoa supaya terlepas dari dosa riba. Akhirnya kami sepakat untuk kerja keras dan hasilnya untuk bayar utang.

Alhamdulillah, pertolongan Allah pun datang dari jalan yang tak disangka-sangka. Seorang teman yang sebenarnya tidak kenal dekat, datang memberi barang (gula 5 ton) untuk saya jualkan sampai 3 bulan lamanya. Ada orang lain lagi memberi bantuan dengan cara yang sama, bahkan sampai terulang 3 kali. Hingga akhirnya hanya dalam waktu lebih kurang 8 bulan, utang riba saya lunas, tanpa ada satu pun aset yang terjual.  Subhanallah.

Kenapa saya bisa keluar dari masalah ini? Sungguh, saya merasa, ini semua karena saya memasrahkan sepenuhnya kepada Allah agar dapat segera keluar dari dosa riba yang sudah menggunung ini. Saya dan istri berikhtiar pantang menyerah dan Allah SWT membukakan pintu rizki-Nya yang Mahaluas. Namun, memang tidak semudah membalik tangan. Semua ini butuh proses yang sistematis. Pertemuan dengan Islam melalui aktivits ormas tersebut dan proses pembinaan (kajian) yang dilakukannya, menjadikan saya punya kesadaran dan bisa keluar dari cara berpikir kapitalis sekuler yang menghalalkan segala cara termasuk berbisnis dengan riba menuju cara berpkir Islam yang produktif dan memastikan bisnis yang halal dan thoyib, penuh ‘berkat’ dan berkah. Dan ternyata, tidak saja masalah riba saya yang terselesaikan, tetapi masalah-masalah lain termasuk masalah kesyirikan, bid’ah, khurafat, tahayul juga ikut terselesaikan, karena sebelumnya setiap ada masalah larinya ke dukun, lantaran setiap apa yang kami doakan tidak pernah terkabul.

“Seakan-akan saya  baru terlahir kembali”. Perasaan inilah yang menjadikan saya berazam dengan segenap kemampuan untuk menyadarkan saudara-saudara kita, khususnya para pengusaha, yang sadar atau tidak sadar telah terjebak dalam kehidupan kapitalis sekuler. Kita kembalikan kepada Islam yang utuh.

Jangan membuatmu takjub, seseorang yang memperoleh harta dari cara haram, jika dia  infakkan atau dia sedekahkan maka tidak diterima, jika ia pertahankan maka tidak diberkahi dan jika ia mati dan ia tinggalkan harta itu maka akan jadi bekal dia ke neraka (HR ath-Thabarani, ath-Thayalisi dan al-Baihaqi, lafal ath-Thabarani). (Harun Musa,Praktisi Bisnis Syariah Bidang Media & Pendidikan)
 
Menemukan Investor Bisnis Print E-mail
Monday, 29 November 2010 02:25

Modal, inilah penyebab utama seseorang untuk tidak bersegera memulai bisnis.  Bagi sebagian besar orang, cekak duit atau bahkan ketiadaan modal (baca : uang) seringkali menjadi alasan utama dan pembenaran yang paling rasional untuk mengubur sebuah rencana berbisnis, walaupun bisa jadi niat, tekad dan semangatnya sudah nyaris bulat. Kenapa demikian?

MIND SET MODAL

Tidak dipungkiri bahwa uang adalah salah satu modal yang sangat strategis dalam menjalankan aktivitas bisnis. Namun, menjadikan uang sebagai  satu-satunya komponen modal sehingga menjadikan ketiadaan uang sebagai believe menunda bahkan mengubur niatan berbisnis, tentu adalah sebuah kesalahan besar. Betapa banyak kita bisa temukan, figur-figur besar yang sukses dalam berbisnis ternyata tidak memiliki uang ketika pada awalnya start up bisnisnya.

 
Mengapa Bisnis Harus Sesuai Syariah ? Print E-mail
Friday, 29 October 2010 00:21

Ada pertanyaan menarik setiap kali konsep bisnis syariah dilontarkan dalam berbagai kesempatan. Bahkan pertanyaan ini pernah juga menjadi dialog yang berkepanjangan di salah satu milist para peminat ekonomi syariah di Indonesia. Pertanyaan itu adalah, “Mengapa harus syariah ?”.

Ya, mengapa harus syariah ? Sebagian orang mungkin akan berkomentar. Toh tanpa syariah, ekonomi kita dan bangsa ini bisa berjalan dengan ‘baik’. Lihatlah data yang dilansir oleh berbagai media yang bersumber dari pemerintah. Angka pertumbuhan positif mencapai 6,3%, laju inflasi mampu ditekan sampai pada 6,25%, suku bunga rata-rata 8,0%, nilai tukar rupiah rata-rata Rp.9.135,- per USD, cadangan devisa sebesar 52,8 miliar USD, IHSG berhasil menembus level psikologis 2.000.

 
<< Start < Prev 1 2 3 Next > End >>

Page 1 of 3
Tumbuk
Nikmati Petualangan Hidup Anda Nikmati Petualangan Hidup Anda Setahun lebih tak bertemu, 3-4 Desember lalu alumi PEMF berkumpul kembali di pes...
 
Tausiyah
Mengisi Hidup di Dunia Mengisi Hidup di Dunia Jiwa kita (nafsu) telah mengarungi 3 fase kehidupan yang berbeda, yaitu fase keh...
 
Tumbuh
Meraih Mimpi Meraih Mimpi Bagi entrepreneur barangkali sulit menjadi entrepreneur hebat jika tidak pernah ...
 

Latest Comment

Saat menggembirakan bagi petan
Alhamdulillah, semoga lancar dan sukses bisnisnya.
Saat menggembirakan bagi petan
Semoga musim ini saatnya menuai kerja keras ya man
Sukses Berkat Khasiat Bubuk Ja
Ass,.. saya pernah mencoba labeur jahe dari lebak
Sukses Berkat Khasiat Bubuk Ja
assalamualaikum,nama saya redi santoso tinggal did
Pesantren Darul Fallah Bogor
asslamu alaikum..bisa saya minta nomr hp nya? sy t

Galeri

Pesantren
Alumni

Ayat Pilihan

"Dan (telah menjanjikan pula kemenangan-kemenangan) yang lain (atas negeri-negeri) yang kamu belum dapat menguasainya yang sungguh Allah telah menentukan-Nya. Dan adalah Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu." (TQS al-Fath [48] : 21)

Alamat Kami

Sektretariat Yayasan Pendidikan Miftahul Falah
Jl. Danau Poso 28 Pejompongan Jakarta Pusat 10210

Lokasi Pesantren Entrepreneur Miftahul Falah
Desa Sukamahi - Kecamatan Sukaresmi - Kabupaten Cianjur - Jawa Barat

Email : 
info@pesantrenpreneur.com