| Mengapa Menjadi Entrepreneur? |
|
|
| Tuesday, 14 August 2007 15:01 | |||||
|
Sepintas saya kaget, sempat terpikir untuk menjawab “lho kalian kan memang belajar di Pesantren Entrepreneur” tapi saya urungkan, pasti bukan jawaban seperti itu yang diharapkan. Lalu saya SMS balik “Menurut Anda mengapa Anda menjadi entrepereneur?”, “Banyak sekali ustadz, karena saya ingin mengembangkan diri.” balasnya. Terus saya tanya lagi “Ingat tiga kebebasan yang pernah saya jelaskan?” santri saya langsung membalas “Ya, itu yang utama : Bebas Finansial, Bebas Aktivitas, Bebas Berprinsip Hidup”. Senang sekali saya menerima balasan itu, berarti pelajaran yang lalu tetap diingat. Konsep kebebasan Robert T. Kiyosaki dalam CashFlow Quadrant-nya menyiratkan bahwa seorang pebisnis yang telah mencapai bebas finansial harus berupaya untuk menuju kebebasan beraktivitas. Sebagai manusia tentu sangat senang jika finansial tidak lagi menjadi masalah. Dan senang sekali jika waktu kita juga bebas, tidak terikat dengan pekerjaan, sehingga bisa bebas berkeliling dunia, pergi ke seluruh penjuru dunia, wisata kemana kita mau (menurut contoh Kiyosaki). Saya tambahkan kepada santri saya, dua kebebasan tersebut memang sangat penting. Namun sebagai seorang muslim, perlu ditambahkan kondisi-kondisinya. Yang pertama, pada saat kita bebas finansial, perlu ditanya kepada diri kita : darimana, bagaimana caranya, dan kemana harta kita tersebut. Sebab itu yang akan ditanya oleh Allah SWT. Kedua, jika finansial sudah mantab, kemudian kita memiliki kebebasan beraktivitas, aktivitas apa yang kita lakukan. Sebab semua perbuatan muslim harus dipertanggungjawabkan dihadapan Allah SWT. Sehingga ketika seorang muslim sudah mantab finansialnya, seharusnya semakin banyak aktivitas yang asuk kepada amal sholehnya. Ketiga, jika kita sudah bebas finansial dan bebas beraktivitas, maka seharusnya kita juga ditambahkan kebebasan Kiyosaki menjadi tiga, yakni bebas menentukan Prinsip Hidup. Sebagai muslim tentu prinsip hidup kita adalah Islam. Betapa banyak saudara kita yang muslim, karena belum bebas finansial, sehingga harus rela mengorbankan sholat jumat karena ditempat kerjanya tidak diperbolehkan sholat jumat. Padahal sholat Jumat bagi seorang muslim adalah bagian dari prinsip hidup. Coba bayangkan jika kita yang menjadi pimpinan mereka, tentu kita berikan kebebasan. Bahkan kita mungkin memberi sanksi bagi yang tidak sholat jumat. Dan setelah sholat jumat bisa jadi ditambah dengan kajian keIsalaman sehingga dari hari ke hari karyawan kita semakin dekat dengan Islam. Jika demikian maka jadi entrepreneur menjadi posisi yang strategis. Tidak saja kita membantu memberi jalan bagi orang lain untuk mencukupkan kebutuhan materinya, tetapi juga mencukupkan kebutuhan mereka untuk melaksanakan ajaran agama. Nah itulah beberapa alasan strategis mengapa kita menjadi entrepreneur. Dalam kehidupan Rasulullah banyak sekali sahabat yang menjadi entrepreneur dan patut menjadi teladan. Sebutlah seorang saja, Abdurrahman bin Auf. Ia pernah menyumbangkan seluruh barang yang dibawa oleh kafilah perdagangannya kepada penduduk Madinah padahal seluruh kafilah ini membawa barang dagangan yang diangkut oleh 700 unta yang memenuhi jalan-jalan kota Madinah. Selain itu juga tercatat Abdurrahman bin Auf telah menyumbangkan antara lain 40.000 Dirham, 40.000 Dinar, 200 uqiyah emas, 500 kuda, dan 1.500 unta. Banyak dan sering sekali, beliau menggunakan hartanya untuk diinfaqkan. Sampai- sampai ada penduduk Madinah yang berkata “ Seluruh penduduk Madinah berserikat dengan Abdurrahman bin Auf pada hartanya. Sepertiga dipinjamkannya pada mereka, sepertiga untuk membayari hutang-hutang mereka, dan sepertiga sisanya dibagi-bagikan kepada mereka”. Dengan begitu banyak harta yang diinfaqkan di jalan Allah, ketika meninggal pada usia 72 tahun beliau masih juga meninggalkan harta yang sangat banyak yaitu terdiri dari 1.000 ekor unta, 100 ekor kuda, 3.000 ekor kambing dan masing-masing istri mendapatkan warisan 80.000 Dinar. Artinya, kekayaan yang ditinggalkan Abdurrahman bin Auf saat itu berjumlah 2.560.000 Dinar. (1 dinar = 4,25 gram emas. 1 dirham = 2,975 gram perak). Jadi mengapa kita menjadi entrepreneur? [Purnomo A. Tsaqif, Direktur Pesantren Entrepreneur Miftahul Falah]
Set as favorite
Bookmark
Email this
Hits: 634 Comments (2)
![]()
HASANIH
said:
|
|||||
|
... Saya setuju sekali dgn konsep pesantren nya mas pur. wah hebat mas, semoga sukses. Saya terinspirasi ingin sekali juga membuat program apakah D3 atau S1 sekolah enterpreuner tp yg hebat dari mas ini pesantren yg dirubah bergaya enterpreuner. Good luck mas. Salam sukses dari Hasanih mas. Semoga dpt menciptakan enterpreuner muslim yg kaffah, amiin Hasanih PEMF answer : Sama-sama mas, semoga lancar mas. kita perlu sama-sama sinergi untuk kemashlahatan ummat. Goodluck juga. saya undang untuk bisa mampir ke pesantren kami. Wassalam |
|
Nikmati Petualangan Hidup Anda
Setahun lebih tak bertemu, 3-4 Desember lalu alumi PEMF berkumpul kembali di pes...
Mengisi Hidup di Dunia
Jiwa kita (nafsu) telah mengarungi 3 fase kehidupan yang berbeda, yaitu fase keh...
Meraih Mimpi
Bagi entrepreneur barangkali sulit menjadi entrepreneur hebat jika tidak pernah ...
| Kabar dari Pondok |
| Berita |
| Ruang Karya Santri |
| Terapan |
| Kewirausahaan |
| Belajar dari Pebisnis |
| Jejak Peradaban Islam |
| Muhibah |
| Tumbuk |
| Tausiyah |
| Tumbuh |
| "Dan (telah menjanjikan pula kemenangan-kemenangan) yang lain (atas negeri-negeri) yang kamu belum dapat menguasainya yang sungguh Allah telah menentukan-Nya. Dan adalah Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu." (TQS al-Fath [48] : 21) |
Sektretariat Yayasan Pendidikan Miftahul Falah
Jl. Danau Poso 28 Pejompongan Jakarta Pusat 10210
Lokasi Pesantren Entrepreneur Miftahul Falah
Desa Sukamahi - Kecamatan Sukaresmi - Kabupaten Cianjur - Jawa Barat
Email :
info@pesantrenpreneur.com